Terjemahan Hadits Shahih Muslim – Kitab ZIKIR, DOA, TAUBAT DAN ISTIGFAR

Kitab Zikir, Doa, Taubat Dan Istigfar

1. Anjuran untuk ingat (berzikir) kepada Allah Taala

•             Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:

Rasulullah saw. bersabda: Allah Taala berfirman: Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku terhadap-Ku dan Aku selalu bersamanya ketika dia mengingat-Ku. Apabila dia mengingat-Ku dalam dirinya, maka Aku pun akan mengingatnya dalam diri-Ku. Apabila dia mengingat-Ku dalam suatu jemaah manusia, maka Aku pun akan mengingatnya dalam suatu kumpulan makhluk yang lebih baik dari mereka. Apabila dia mendekati-Ku sejengkal, maka Aku akan mendekatinya sehasta. Apabila dia mendekati-Ku sehasta, maka Aku akan mendekatinya sedepa. Dan apabila dia datang kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku akan datang kepadanya dengan berlari. (Shahih Muslim No.4832)

2. Tentang nama-nama Allah Taala dan keutamaan orang yang menghafalnya

•             Hadis riwayat Abu Hurairah ra.:

Nabi saw. bersabda: Allah itu memiliki sembilan puluh sembilan nama yang bagus. Barang siapa yang mampu menghafalnya, maka dia akan masuk surga. Sesungguhnya Allah itu ganjil dan Dia menyukai yang ganjil. (Shahih Muslim No.4835)

3. Berteguh hati dalam berdoa dan tidak berdoa dengan ucapan: Jika Engkau berkenan

•             Hadis riwayat Anas ra., ia berkata:

Rasulullah saw. bersabda: Apabila seorang di antara kamu berdoa maka hendaklah dia berteguh hati dalam berdoa serta jangan pula dia berdoa dengan mengucapkan: Ya Allah! Jika Engkau sudi maka berilah aku. Sesungguhnya Allah tidak ada yang memaksanya. (Shahih Muslim No.4837)

•             Hadis riwayat Abu Hurairah ra.:

Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Apabila seorang di antara kamu berdoa, maka janganlah dia berkata: Ya Allah! Ampunilah aku jika Engkau sudi. Tetapi bersungguh-sungguhlah dia dalam memohon dan mohonlah perkara-perkara yang besar dan mulia (surga atau pengampunan), karena Allah tidak ada sesuatu pun yang besar bagi-Nya dari apa yang telah dianugrahkan. (Shahih Muslim No.4838)

4. Larangan mengharapkan kematian karena musibah yang menimpa

•             Hadis riwayat Anas ra., ia berkata:

Rasulullah saw. bersabda: Janganlah seorang di antara kamu mengharapkan kematian karena musibah yang menimpanya dan apabila dia memang harus mengharapkan, sebaiknya dia berkata: Ya Allah! Hidupkanlah aku selama kehidupan itu yang terbaik bagiku, dan matikanlah aku jika kematian itu yang terbaik bagiku. (Shahih Muslim No.4840)

•             Hadis riwayat Khabbab ra.:

Dari Qais bin Abu Hazim ia berkata: Saya datang menemui Khabbab yang sedang menderita tujuh luka bakar di perutnya, lalu dia berkata: Seandainya Rasulullah saw. tidak melarang kita untuk memohon kematian niscaya aku telah memohonnya. (Shahih Muslim No.4842)

•             Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:

Rasulullah saw. bersabda: Janganlah seorang di antara kamu mengharapkan kematian dan jangan pula memohonnya sebelum kematian itu datang menjemputnya. Sesungguhnya apabila seorang di antara kamu meninggal dunia maka terputuslah amal perbuatannya dan sesungguhnya usia seorang mukmin itu akan menambah kebajikan (bagi dirinya). (Shahih Muslim No.4843)

5. Barang siapa yang suka bertemu Allah, maka Allah akan suka bertemu dengannya dan barang siapa yang tidak suka bertemu Allah, maka Allah tidak akan suka bertemu dengannya

•             Hadis riwayat Ubadah bin Shamit ra.:

Bahwa Nabi saw. bersabda: Barang siapa menyukai pertemuan dengan Allah, maka Allah akan menyukai pertemuan dengannya, dan barang siapa yang tidak menyukai pertemuan dengan Allah, maka Allah tidak akan menyukai pertemuan dengannya. (Shahih Muslim No.4844)

•             Hadis riwayat Aisyah ra., ia berkata:

Rasulullah saw. bersabda: Barang siapa yang menyukai pertemuan dengan Allah, maka Allah akan menyukai pertemuan dengannya. Dan barang siapa yang tidak menyukai pertemuan dengan Allah, maka Allah tidak akan menyukai pertemuan dengannya. Aku bertanya: Wahai baginda, bagaimana dengan kebencian terhadap kematian karena semua kita membenci kematian? Beliau menjawab: Bukan begitu, tetapi seorang mukmin apabila diberi kabar gembira dengan rahmat Allah, keridaan dan surga-Nya, maka dia akan senang bertemu dengan Allah dan Allah akan senang bertemu dengannya. Dan sesungguhnya orang kafir apabila diberitahukan tentang siksaan serta kemurkaan Allah, maka dia akan membenci pertemuan dengan Allah sehingga Allah pun akan membenci pertemuan dengannya. (Shahih Muslim No.4845)

•             Hadis riwayat Abu Musa ra.:

Nabi saw. bersabda: Barang siapa yang menyukai pertemuan dengan Allah, maka Allah menyukai pertemuan dengannya. Dan barang siapa yang tidak menyukai pertemuan dengan Allah, maka Allah tidak akan menyukai pertemuan dengannya. (Shahih Muslim No.4848)

6. Makruh berdoa agar segera diturunkan siksaan di dunia

•             Hadis riwayat Anas ra.:

Bahwa Rasulullah saw. menjenguk seorang lelaki kaum muslimin yang telah lemah sekali sehingga (keadaannya) seperti anak burung. Rasulullah saw. bertanya kepada lelaki itu: Apakah kamu pernah berdoa memohon sesuatu? Lelaki itu menjawab: Ya, aku berdoa: Ya Allah! Apa yang hendak Engkau siksa aku di akhirat, maka laksanakanlah segera di dunia. Lalu Rasulullah saw. bersabda: Maha Suci Allah! Kamu tidak akan kuat atau tidak akan mampu menanggungnya. Kenapa kamu tidak berdoa dengan: Ya Allah! Berikan kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat serta jagalah kami dari siksa neraka. Ia (Anas) berkata: Kemudian Rasulullah saw. berdoa kepada Allah untuknya sehingga Allah pun menyembuhkannya. (Shahih Muslim No.4853)

7. Keutamaan majelis zikir

•             Hadis riwayat Abu Hurairah ra.:

Dari Nabi saw., beliau bersabda: Sesungguhnya Allah Yang Maha Memberkahi lagi Maha Tinggi memiliki banyak malaikat yang selalu mengadakan perjalanan yang jumlahnya melebihi malaikat pencatat amal, mereka senantiasa mencari majelis-majelis zikir. Apabila mereka mendapati satu majelis zikir, maka mereka akan ikut duduk bersama mereka dan mengelilingi dengan sayap-sayapnya hingga memenuhi jarak antara mereka dengan langit dunia. Apabila para peserta majelis telah berpencar mereka naik menuju ke langit. Beliau melanjutkan: Lalu Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung menanyakan mereka padahal Dia lebih mengetahui daripada mereka: Dari manakah kamu sekalian? Mereka menjawab: Kami datang dari tempat hamba-hamba-Mu di dunia yang sedang mensucikan, mengagungkan, membesarkan, memuji dan memohon kepada Engkau. Allah bertanya lagi: Apa yang mereka mohonkan kepada Aku? Para malaikat itu menjawab: Mereka memohon surga-Mu. Allah bertanya lagi: Apakah mereka sudah pernah melihat surga-Ku? Para malaikat itu menjawab: Belum wahai Tuhan kami. Allah berfirman: Apalagi jika mereka telah melihat surga-Ku? Para malaikat itu berkata lagi: Mereka juga memohon perlindungan kepada-Mu. Allah bertanya: Dari apakah mereka memohon perlindungan-Ku? Para malaikat menjawab: Dari neraka-Mu, wahai Tuhan kami. Allah bertanya: Apakah mereka sudah pernah melihat neraka-Ku? Para malaikat menjawab: Belum. Allah berfirman: Apalagi seandainya mereka pernah melihat neraka-Ku? Para malaikat itu melanjutkan: Dan mereka juga memohon ampunan dari-Mu. Beliau bersabda kemudian Allah berfirman: Aku sudah mengampuni mereka dan sudah memberikan apa yang mereka minta dan Aku juga telah memberikan perlindungan kepada mereka dari apa yang mereka takutkan. Beliau melanjutkan lagi lalu para malaikat itu berkata: Wahai Tuhan kami! Di antara mereka terdapat si Fulan yaitu seorang yang penuh dosa yang kebetulan lewat lalu duduk ikut berzikir bersama mereka. Beliau berkata lalu Allah menjawab: Aku juga telah mengampuninya karena mereka adalah kaum yang tidak akan sengsara orang yang ikut duduk bersama mereka. (Shahih Muslim No.4854)

8. Keutamaan membaca tahlil, membaca tasbih dan berdoa

•             Hadis riwayat Abu Hurairah ra.:

Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Barang siapa yang membaca: “Tidak ada Tuhan selain Allah semata, Yang tiada sekutu bagi-Nya, kepunyaan-Nyalah segenap kerajaan dan milik-Nyalah segala pujian serta Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu”, setiap hari sebanyak seratus kali, maka dia akan mendapat pahala yang sama besarnya dengan membebaskan sepuluh orang budak dan akan dicatat untuknya seratus kebajikan serta dihapus darinya seratus keburukan. Baginya hal itu adalah satu perlindungan dari setan mulai dari pagi hari sampai sore. Tidak ada seorang pun yang lebih utama dari orang yang melakukan hal itu kecuali orang yang lebih banyak dari itu. Barang siapa yang membaca: “Maha Suci Allah dan dengan memuji-Nya”, sebanyak seratus kali setiap hari, maka akan terhapuslah semua dosanya sekalipun dosanya itu sebanyak buih di lautan. (Shahih Muslim No.4857)

•             Hadis riwayat Abu Ayyub Al-Anshari ra.:

Dari Nabi saw., beliau bersabda: Barang siapa yang membaca: “Tidak ada Tuhan selain Allah semata, Yang tiada sekutu bagi-Nya, kepunyaan-Nyalah segenap kerajaan dan milik-Nyalah segala pujian, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu”, sebanyak sepuluh kali, maka dia laksana orang yang telah memerdekakan empat orang budak dari putra Ismail. (Shahih Muslim No.4859)

•             Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:

Rasulullah saw. bersabda: Dua kalimat yang ringan untuk diucapkan, tetapi berat dalam timbangan dan disukai oleh Allah Yang Maha Pengasih, yaitu: “Maha Suci Allah dengan segala pujian-Nya dan Maha Suci Allah Tuhan Yang Maha Agung”. (Shahih Muslim No.4860)

9. Anjuran merendahkan suara ketika berzikir

•             Hadis riwayat Abu Musa ra., ia berkata:

Ketika kami sedang bersama Rasulullah saw. dalam suatu perjalanan, mulailah orang-orang mengeraskan suara mereka dalam membaca takbir lalu bersabdalah beliau: Wahai manusia, rendahkanlah suara kamu sekalian! Karena kamu sekalian sesungguhnya tidak sedang memohon kepada yang tuli maupun yang gaib bahkan kamu sekalian sedang memohon kepada Tuhan Yang Maha Mendengar lagi Maha Dekat Yang selalu bersama kamu sekalian. Aku pada saat itu berada di belakang beliau sambil mengucapkan: “Laa haula wa laa quwata illa billah”, (Tidak ada daya dan kekuatan kecuali berkat bantuan Allah). Rasulullah saw. berkata: Wahai Abdullah bin Qais! Maukah kamu aku tunjukkan kepada salah-satu kekayaan surga yang tersimpan? Aku menjawab: Tentu, wahai Rasulullah. Beliau bersabda: Yaitu ucapan: “Laa haula wa laa quwata illa billah”. (Shahih Muslim No.4873)

•             Hadis riwayat Abu Bakar ra.:

Bahwasanya ia pernah berkata kepada Rasulullah saw.: Ajarkanlah kepadaku suatu doa yang akan aku baca dalam salatku. Beliau bersabda: Bacalah! “Ya Allah, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri, suatu penganiayaan yang cukup besar”, menurut Qutaibah penganiayaan yang banyak, “Dan tidak ada yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Engkau. Berikanlah kepadaku ampunan dari sisi-Mu dan kasihanilah aku, karena sesungguhnya Engkau adalah Zat Yang Maha Pengampun lagi Maha Pengasih”. (Shahih Muslim No.4876)

10. Mohon perlindungan dari kelemahan, kemalasan dan lainnya

•             Hadis riwayat Anas bin Malik ra., ia berkata:

Rasulullah saw. biasa berdoa: Ya Allah! Aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, kemalasan, sifat pengecut, menyia-nyiakan usia dan dari sifat kikir. Aku juga berlindung kepada-Mu dari siksa kubur dan dari fitnah kehidupan serta kematian. (Shahih Muslim No.4878)

11. Mohon perlindungan dari takdir yang buruk dan kesengsaraan serta lainnya

•             Hadis riwayat Abu Hurairah ra.:

Bahwa Nabi saw. selalu memohon perlindungan dari takdir yang jelek, bencana kesengsaraan, kejahatan musuh serta dari cobaan yang sangat berat. (Shahih Muslim No.4880)

12. Doa ketika akan tidur dan berbaring di atas peraduan

•             Hadis riwayat Barra’ bin Azib ra.:

Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Apabila kamu hendak berbaring ke tempat peraduanmu, maka berwudulah seperti wudu untuk salat, kemudian berbaringlah di atas sisi kananmu lalu bacalah doa: (Ya Allah! Sesungguhnya aku menyerahkan diriku kepada-Mu, dan aku serahkan segala urusanku kepada-Mu, dan aku baringkan tubuhku ke hadapan-Mu karena mengharapkan pahala-Mu dan takut akan siksa-Mu, tidak ada tempat berlindung dan tidak ada pula yang dapat menyelamatkan diri kecuali kembali kepada-Mu, aku beriman dengan kitab-Mu yang Engkau turunkan dan dengan nabi-Mu yang Engkau utus). Jadikanlah semua itu sebagai ucapanmu yang terakhir karena apabila kamu mati pada malam itu, maka kamu telah mati dalam keadaan fitrah. (Barra’) berkata: Aku mengulang-ulangi kalimat-kalimat tersebut untuk mengingatnya. Aku ucapkan: Aku beriman kepada rasul-Mu yang Engkau utus. Rasulullah saw. bersabda: Ucapkanlah! Aku beriman dengan nabi-Mu yang telah Engkau utus. (Shahih Muslim No.4884)

•             Hadis riwayat Abu Hurairah ra.:

Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Apabila seorang dari kamu sekalian ingin berbaring ke tempat tidurnya, maka hendaklah ia memegang ujung kainnya lalu kirapkanlah tempat tidurnya (menghilangkan debu) serta bacalah bismillah, sebab dia tidak mengetahui apa yang tinggalkan setelahnya di atas tempat tidurnya itu. Kemudian jika ia hendak berbaring, maka berbaringlah di atas sisi kanannya dan bacalah doa: “Maha Suci Engkau, ya Allah Tuhanku, karena Engkaulah aku membaringkan tubuhku dan karena Engkau pulalah aku mengangkatnya. Apabila Engkau mencabut jiwaku, maka ampunilah ia dan apabila Engkau melepaskannya (menghidupkan) maka jagalah ia sebagaimana Engkau menjaga hamba-hamba-Mu yang saleh”. (Shahih Muslim No.4889)

13. Mohon perlindungan dari kejahatan yang dilakukan dan yang belum dilakukan

•             Hadis riwayat Ibnu Abbas ra.:

Bahwa Rasulullah saw. pernah berdoa dengan membaca: “Ya Allah, kepada-Mulah aku berserah diri dan kepada-Mulah aku beriman, terhadap-Mu aku bertawakkal dan kepada-Mu aku kembali serta dengan (pertolongan) Engkau aku berperang. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung dengan kemuliaan-Mu, tidak ada Tuhan selain Engkau, agar Engkau tidak menyesatkan aku, Engkaulah Yang Maha Hidup dan tidak akan mati sedang jin dan manusia semuanya akan mati”. (Shahih Muslim No.4894)

•             Hadis riwayat Abu Musa Al-Asy`ari ra.:

Bahwa Nabi saw. selalu berdoa dengan membaca: “Ya Allah, ampunilah kesalahan dan kebodohanku, dan juga sikap berlebihanku dalam segala urusanku dan segala yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah! Ampunilah kesungguhanku dan kelakarku, dan ketidaksengajaanku dan kesengajaanku serta semua yang ada di sisiku. Ya Allah, ampunilah dosa yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan, yang aku lakukan secara sembunyi maupun yang aku lakukan secara terang-terangan serta segala yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Engkaulah Yang Maha Mendahului dan Yang Maha Mengakhiri dan Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (Shahih Muslim No.4896)

•             Hadis riwayat Abu Hurairah ra.:

Bahwa Rasulullah saw. berdoa: “Tidak ada Tuhan selain Allah semata, Tuhan Yang memenangkan tentara-Nya, Tuhan Yang menolong hamba-Nya, Tuhan Yang mengalahkan golongan-golongan kafir, maka tidak ada sesuatu pun (yang abadi) selain-Nya”. (Shahih Muslim No.4903)

14. Bertasbih pada permulaan siang dan ketika hendak tidur

•             Hadis riwayat Ali bin Abu Thalib ra.:

Bahwa Fatimah mengeluhkan tangannya (yang terluka) akibat alat penumbuk biji-bijian. Dan Nabi saw. mendapatkan seorang tawanan (untuk dijadikan pelayan), maka berangkatlah Fatimah menemui Nabi saw. namun ia tidak menjumpai beliau tetapi ia bertemu dengan Aisyah, lalu diceritakanlah maksud kedatangannya kepada Aisyah. Ketika Nabi saw. datang, Aisyah menceritakan kepada beliau tentang kedatangan Fatimah. Nabi saw. segera menemui kami pada saat kami telah berbaring di tempat tidur, kemudian kami pun beranjak bangun ingin menghampiri beliau tetapi Nabi saw. berkata: Tetaplah di tempat kalian! Lalu beliau duduk di antara kami berdua sehingga aku dapat merasakan di dadaku dinginnya telapak kaki beliau. Kemudian beliau bersabda: Maukah kamu berdua aku ajarkan sesuatu yang lebih baik daripada apa yang kamu berdua minta yaitu ketika kalian hendak berbaring ke tempat tidur, bacalah takbir sebanyak tiga puluh empat kali, tasbih sebanyak tiga puluh tiga kali serta tahmid sebanyak tiga puluh tiga kali karena hal itu lebih baik bagi kamu berdua daripada seorang pelayan. (Shahih Muslim No.4906)

15. Anjuran berdoa ketika mendengar suara ayam jantan

•             Hadis riwayat Abu Hurairah ra.:

Bahwa Nabi saw. bersabda: Jika kamu sekalian mendengar suara kokok ayam jantan, maka mohonlah karunia Allah karena sesungguhnya binatang tersebut telah melihat malaikat dan jika kamu sekalian mendengar suara ringkikan keledai, maka mohonlah perlindungan kepada Allah dari godaan setan, karena binatang tersebut telah melihat setan. (Shahih Muslim No.4908)

16. Doa ketika tertimpa kesusahan

•             Hadis riwayat Ibnu Abbas ra.:

Bahwa Nabi saw. ketika tertimpa Kesusahan, beliau berdoa: “Tidak ada Tuhan selain Allah Yang Maha Agung lagi Maha Penyantun, tidak ada Tuhan selain Allah Tuhan Yang Memiliki Arsy nan Agung, tidak ada Tuhan selain Allah Tuhan segenap langit, Tuhan bumi serta Tuhan Arsy nan Mulia”. (Shahih Muslim No.4909)

17. Menerangkan seorang yang berdoa akan dikabulkan selama dia tidak cepat berkata: Aku telah berdoa tetapi tidak dikabulkan

•             Hadis riwayat Abu Hurairah ra.:

Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Akan dikabulkan doa seseorang di antara kamu sekalian selama dia tidak terburu-buru berkata: Aku sudah berdoa, tetapi aku tidak atau belum dikabulkan. (Shahih Muslim No.4916)

18. Tentang mayoritas ahli surga adalah dari orang-orang miskin dan mayoritas ahli neraka dari kaum wanita serta mengenai fitnah kaum wanita

•             Hadis riwayat Usamah bin Zaid ra., ia berkata:

Rasulullah saw. bersabda: Aku berdiri di depan pintu surga, tiba-tiba aku melihat mayoritas yang memasukinya adalah orang-orang miskin dan aku juga melihat para penguasa (di dunia) dalam keadaan tertahan, kecuali penghuni neraka yang telah diperintahkan kepada mereka untuk memasuki neraka. Dan aku juga berdiri di depan pintu neraka, ternyata mayoritas yang memasukinya adalah dari kaum wanita. (Shahih Muslim No.4919)

•             Hadis riwayat Imran bin Hushain ra.:

Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya yang paling sedikit menempati surga adalah kaum wanita. (Shahih Muslim No.4921)

•             Hadis riwayat Usamah bin Zaid ra., ia berkata:

Rasulullah saw. bersabda: Aku tidak meninggalkan satu fitnah pun setelahku yang lebih membahayakan kaum lelaki daripada kaum wanita. (Shahih Muslim No.4923)

19. Kisah tiga orang penghuni gua dan tawasul dengan amal saleh

•             Hadis riwayat Abdullah bin Umar ra.:

Dari Rasulullah saw., beliau bersabda: Ketika tiga orang pemuda sedang berjalan, tiba-tiba turunlah hujan lalu mereka pun berlindung di dalam sebuah gua yang terdapat di perut gunung. Sekonyong-konyong jatuhlah sebuah batu besar dari atas gunung menutupi mulut gua yang akhirnya mengurung mereka. Kemudian sebagian mereka berkata kepada sebagian yang lain: Ingatlah amal saleh yang pernah kamu lakukan untuk Allah, lalu mohonlah kepada Allah dengan amal tersebut agar Allah berkenan menggeser batu besar itu. Salah seorang dari mereka berdoa: Ya Allah, sesungguhnya dahulu aku mempunyai kedua orang tua yang telah lanjut usia, seorang istri dan beberapa orang anak yang masih kecil di mana akulah yang memelihara mereka. Setelah aku mengandangkan hewan-hewan ternakku, aku segera memerah susunya dan memulai dengan kedua orang tuaku terdahulu untuk aku minumkan sebelum anak-anakku. Suatu hari aku terlalu jauh mencari kayu (bakar) sehingga tidak dapat kembali kecuali pada sore hari di saat aku menemui kedua orang tuaku sudah lelap tertidur. Aku pun segera memerah susu seperti biasa lalu membawa susu perahan tersebut. Aku berdiri di dekat kepala kedua orang tuaku karena tidak ingin membangunkan keduanya dari tidur namun aku pun tidak ingin meminumkan anak-anakku sebelum mereka berdua padahal mereka menjerit-jerit kelaparan di bawah telapak kakiku. Dan begitulah keadaanku bersama mereka sampai terbit fajar. Jika Engkau mengetahui bahwa aku melakukan itu untuk mengharap keridaan-Mu, maka bukalah sedikit celahan untuk kami agar kami dapat melihat langit. Lalu Allah menciptakan sebuah celahan sehingga mereka dapat melihat langit. Yang lainnya kemudian berdoa: Ya Allah, sesungguhnya dahulu aku pernah mempunyai saudara seorang puteri paman yang sangat aku cintai, seperti cintanya seorang lelaki terhadap seorang wanita. Aku memohon kepadanya untuk menyerahkan dirinya tetapi ia menolak kecuali kalau aku memberikannya seratus dinar. Aku pun bersusah payah sampai berhasillah aku mengumpulkan seratus dinar yang segera aku berikan kepadanya. Ketika aku telah berada di antara kedua kakinya (selangkangan) ia berkata: Wahai hamba Allah, takutlah kepada Allah dan janganlah kamu merenggut keperawanan kecuali dengan pernikahan yang sah terlebih dahulu. Seketika itu aku pun beranjak meninggalkannya. Jika Engkau mengetahui bahwa aku melakukan itu untuk mencari keridaan-Mu, maka ciptakanlah sebuah celahan lagi untuk kami. Kemudian Allah pun membuat sebuah celahan lagi untuk mereka. Yang lainnya berdoa: Ya Allah, sesungguhnya aku pernah mempekerjakan seorang pekerja dengan upah enam belas ritel beras (padi). Ketika ia sudah merampungkan pekerjaannya, ia berkata: Berikanlah upahku! Lalu aku pun menyerahkan upahnya yang sebesar enam belas ritel beras namun ia menolaknya. Kemudian aku terus menanami padinya itu sehingga aku dapat mengumpulkan beberapa ekor sapi berikut penggembalanya dari hasil padinya itu. Satu hari dia datang lagi kepadaku dan berkata: Takutlah kepada Allah dan janganlah kamu menzalimi hakku! Aku pun menjawab: Hampirilah sapi-sapi itu berikut penggembalanya lalu ambillah semuanya! Dia berkata: Takutlah kepada Allah dan janganlah kamu mengolok-olokku! Aku pun berkata lagi kepadanya: Sesungguhnya aku tidak mengolok-olokmu, ambillah sapi-sapi itu berikut penggembalanya! Lalu ia pun mengambilnya dan dibawa pergi. Jika Engkau mengetahui bahwa aku melakukan itu untuk mengharap keridaan-Mu, maka bukakanlah untuk kami sedikit celahan lagi yang tersisa. Akhirnya Allah membukakan celahan yang tersisa itu. (Shahih Muslim No.4926)

Riyadathus Shalihin : Banyaknya Jalan Kebaikan

Riyadathus Shalihin : Banyaknya Jalan Kebaikan

1. Dari Abu Dzarr Jundub bin Junadah ra., ia bertanya kepada Rasulullah SAW : “Amal apakah yang paling utama ?

Beliau menjawab : “Iman kepada Allah dan berjuang di jalan-Nya.

Saya bertanya : “Memerdekakan budak yang bagaimana yangpaling utama ?”

Beliau menjawab : “Memerdekakan budak ketika sangat disayang oleh tuannya dan yang paling mahal harganya .”

Saya bertanya : “Seandainya saya tidak mampu berbuat yang sedemikian, lalu bagaimana ?”

Beliau menjawab: “Kamu membantu orang yang bekerja atau kamu menyibukkan diri agar hidupmu tidak sia-sia.”

Saya bertanya lagi : “Wahai Rasulullah, bagaimana jika saya tidak mampu melakukan sebagian pekerjaan itu ?”

Beliau menjawab : “Janganlah kamu berbuat kejahatan kepada sesama manusia,karena sesungguhnya yang demikian itu termasuk sedekah
untuk dirimu .”

(HR.Bukhari dan Muslim)

2. Dari Abu Dzarr ra., ia berkata :

Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda : “Setiap pagi, pada ruas tulang kalian terdapat sedekah, setiap ucapan tasbih (SUBHANALLAH)
adalah sedekah, setiap ucapan tahmid (ALHAMDULILLAH) adalah sedekah, setiap ucapan tahlil (LAA ILAHA ILLALLAH) adalah sedekah, setiap ucapan takbir ( ALLAHU AKBAR) adalah sedekah, memerintah kebaikan adalah sedekah, mencegah perkara mungkar (yang dibenci) adalah sedekah,dan dua raka’at yang dikerjakan seseorang dalam salat Dhuha telah mencakup semuanya .” (HR.Muslim)


3. Dari Abu Dzarr ra., ia berkata : Nabi SAW bersabda :


“Diperlihatkan kepadaku amal-amal perbuatan umatku, yang baik maupun yang jelek. Aku mendapatkan dalam kelompok amal perbuatan yang baik, di antaranya menghilangkan gangguan dari jalan, dan aku mendapatkan dalam kelompok amal perbuatan yang jelek, di antaranya, ingus yang dibiarkan di masjid tanpa ditutupi atau dibuang .”
(HR.Muslim)

4. Dari Abu Dzarr ra., ia berkata:

“Orang-orang protes kepada Rasulullah SAW: “Wahai Rasulullah, orang-orang kaya telah memborong pahala, mereka mengerjakan shalat sebagaimana kami shalat, dan mereka berpuasa sebagaimana kami berpuasa. Tetapi mereka bersedekah dengan kelebihan harta mereka.

” Nabi bersabda: “Bukankah Tuhan telah menjadikan sesuatu bagimu untuk sedekah? Sesungguhnya tiap-tiaptasbih, tahmid, adalah sedekah, menyuruh kepada kebaikan,melarang berbuat kemungkaran, dan bersetubuh (dengan isterinya) adalah sedekah.”

Mereka bertanya:

“Wahai Rasulullah, apakah salah seorang di antara kami mendapatkan pahala sedangkan ia mengikuti syahwatnya?”
Rasulullah bersabda: “Bukankah seseorang yang menyalurkan syahwatnya pada yang haram ia berdosa? Maka demikian pula apabila ia menempatkan syahwatnya itu pada yang halal, ia akan mendapat pahala.” (HR. Muslim)

5. Dari Abu Dzarr ra., ia berkata:

“Nabi SAW bersabda: ‘Janganlah sekali-kali engkau meremehkan suatu kebaikan,walaupun hanya menemui saudaramu (sesama muslim) dengan wajah yang ramah.’” (HR. Muslim)

 

6. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata:

“Rasulullah SAW bersabda: ‘Setiap ruas tulang manusia sebaiknya disedekahi (oleh pemiliknya) setiap hari terbitnya matahari (sebagai
pernyataan syukur kepada Allah untuk keselamatan tulang-tulangnya). Dan macam sedekah itu banyak sekali, diantaranya berlaku adil di antara dua orang (yang sedang bertengkar), membantu teman ketika hendak menaiki tunggangannya atau memuatkan barang temannya ke
punggungnya, ucapan yang baik, setiap langkah untuk melakukan shalat, dan menyingkirkan sesuatu yang membahayakan orang di jalan, adalah sedekah.’”

(HR.Bukhari dan Muslim)

7. Dari ‘Aisyah ra., ia berkata:

“Rasulullah SAW bersabda:‘Sesungguhnya setiap anak cucu Adam diciptakan sebanyak 360 ruas tulang. Maka siapa saja mengagungkan Allah (membaca takbir), memuji Allah membaca hamdalah (alhamdulillah), membaca tahlil (laa ilaaha illallaah), membaca tasbih (subhanallah), membaca istighfar (astaghfirullah), menyingkirkan batu dari jalanan, menyingkirkan duri atau tulang dari jalan umum,
memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran, hingga genap tiga ratus enam puluh kali, berarti pada petang hari ia telah menjauhkan dirinya dari neraka.’” (HR Muslim)

8. Dari Abu Hurairah, dari Nabi SAW beliau bersabda:

“Siapa saja yang pergi ke masjid di pagi hari mahupun petang hari, Allah menyediakan hidangan surga baginya sepanjang pagi mahupun
petang.” (HR Bukhari dan Muslim)

9. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata:

“Rasulullah SAW bersabda: ‘Wahai kaum muslimah, janganlah sekali-kali seorang tetangga itu merasa terhina untuk memberi sedekah kepada tetangganya, walaupun hanya berupa kikil kambing.’” (HR.Bukhari dan Muslim)

10. Dari Abu Hurairah ra., dari Nabi SAW, beliau bersabda:
“Iman itu mempunyai tujuh puluh atau enam puluh lebih cabang, yang paling utama adalah ucapan: ‘LAA ILAAHA ILLALLAAH’ (Tidak ada Tuhan selain Allah), dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Sedangkan malu adalah cabang dari iman.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

11. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata:

Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: “Kali tertentu ada seorang laki-laki yang berjalan. Di tengah perjalannya ia kehausan, ia menemukan sebuah perigi maka iapun turun ke dalamnya dan meminumnya. Kemudian ia keluar, tiba-tiba ada seekor anjing
yang menjilat-jilat tanah karena kehausan, lantas orang itu berkata: ‘Anjing ini benar-benar kehausan sebagaimana diriku.’ Kemudian ia turun lagi dan mengisi sepatunya dengan air sampai penuh, kemudian ia menggigit sepatunya dan naik ke atas lalu ia memberinya minum.

Allah memuji perbuatan orang itu kerena menolong anjing dan Allah mengampuni dosanya.

” Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah menolong binatang juga memperolah pahala?

” Beliau menjawab: “Menolong setiap makhluk yang mempunyai limpa itu mendapatkan pahala.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dalam hadis riwayat Bukhari disebutkan : “Allah memuji perbuatan orang itu dan memberi ampunan kepadanya serta memasukkannya
ke dalam surga.

” Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim yang lain disebutkan : “Kali tertentu ada seekor anjing yang berputar-putar di
sekeliling perigi, ia hampir mati karena kehausan, ada seorang penjahat dari Bani Israil yang melihat anjing itu. Melihat yang
demikian, ia melepaskan sepatunya dan mengambil air untuk diminurnkan pada anjing itu. Kerena perbuatannya itu, diampunilah
dosa-dosa penjahat itu.”

12. Dari Abu Hurairah ra.,

Nabi SAW bersabda: “Kulihat ada seseorang yang bersenang-senang di dalam syurga disebabkan ia memotong dahan yang berada di tengah jalan kerena mengganggu kaum muslimin yang melalui. (HR. Bukhari)


Dalam riwayat lain : “Ada seseorang yang berjalan dan ia terganggu sebatang dahan yang menghalanginya, kemudian ia berkata:

‘Demi Allah saya akan menyingkirkan dahan ini dari jalan, agar tidak mengganggu kaum muslimin yang melalui.’

Karena perbuatannya itu,ia dimasukkan surga.”


Dalam riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan: “Ada seseorang yang berjalan dan menemukan dahan yang berduri di jalan,
kemudian ia menyingkirkannya, maka Allah memuji orang itu dan mengampuni dosa-dosanya.”

13. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata:

“Rasulullah SAW bersabda: ‘Siapa saja yang berwudhu dengan sempurna, kemudian menunaikan solat Jumaat dan mendengarkan serta
memperhatikan khutbah, maka diampunilah dosa-dosa yang dikerjakannya antara hari itu sampai hari Jumaat berikutnya, ditambah tiga hari berikutnya. Dan siapa saja yang tidak menghormati dan melakukan perkara yang lara sewaktu khutbah maka sia-sialah Jumaatnya.’”

(HR. Muslim)

14. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata:

“Rasulullah.SAW bersabda: ‘Jika orang muslim atau mukmin itu berwudhu, maka ketika ia membasuh mukanya, keluarlah setiap dosa
yang dilakukan oleh kedua matanya, karena melihat sesuatu yang diharamkan. Hilangnya bersama-sama dengan air itu atau bersama-sama dengan tetesan air terakhir. Jika ia membasuh kakinya, maka keluarlah dosa yang diperbuat oleh kedua kakinya, karena dipergunakan berjalan pada jalan yang tidak benar, bersama-sama dengan air atau bersama-sama dengan tetesan air terakhir, sehingga ia bersih dari dosa.’” (HR. Muslim)

15. Dari Abu Hurairah ra.,

Rasulullah SAW, bersabda : “Solat lima waktu, antara solat Jumaat yang satu ke solat Jumaat berikutnya, dan puasa pada bulan Ramadhan ke puasa Ramadhan berikutnya, menjadi penebus atas dosa-dosa yang dilakukan, selama dosa-dosa besar dijauhinya.” (HR. Muslim)

16. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata:

Rasulullah SAW bertanya: “Maukah kalian kutunjukkan sesuatu yang dapat menghapus dosa-dosa dan dapat mengangkat derjat (di syurga)?”

Para sahabat menjawab: “Tentu saja, Ya Rasulullah.” “Yaitu menyempurnakan wudhu pada waktu-waktu yang tidak
disukai, memperbanyak langkah ke masjid dan menunggu solat setelah selesai solat. Itulah yang harus kalian utamakan.” (HR. Muslim)

17. Dari Abu Musa Al-Asy’ari ra., ia berkata:

Rasulullah SAW bersabda: “Siapa saja yang selalu menjaga solat Subuh dan
solat Asar nescaya ia masuk syurga.” (HR. Rukhari dan Muslim)


18. Dari Abu Musa Al-Asy’ari ra., ia berkata:

Rasulullah SAW bersabda: “Apabila seseorang menderita sakit atau sedang bepergian, maka dicatatlah pahala baginya amal perbuatan
yang biasa dikerjakannya pada waktu tidak bepergian dan pada waktu sehat.” (HR. Bukhari)

19. Dari Jabir ra., ia berkata,

Rasulullah SAW bersabda: “Setiap perbuatan baik adalah sedekah.” (HR. Bukhari)

20. Dari Jabir ra., ia berkata:

Rasulullah SAW bersabda:”Seorang muslim yang menanam tanaman, kemudian ia makan dari hasil tanaman itu termasuk sedekah baginya, juga bila hasil tanaman itu dicuri atau diambil orang, maka ia termasuk sedekah baginya.” (HR. Muslim)

Dalam riwayat lain disebutkan: “Seorang muslim yang menanam tanaman atau menabur benih kemudian hasil tanamannya itu
dimakan oleh manusia, binatang, mahupun sesuatu yang lain, maka semua itu merupakan sedekah baginya sampai hari kiamat.”

 

21. Dari Jabir ra., ia berkata:

“Orang-orang Bani Salimah ingin berpindah rumah dekat dengan masjid, kemudian kabar itu
terdengar Rasulullah SAW maka beliau bersabda kepada
mereka: “Aku mendengar bahwa kalian ingin pindah tempat yang dekat dengan masjid.” Mereka menjawab:

“Benar wahai Rasulullah, kami ingin pindah dekat dengan masjid.

” Beliau bersabda: “Wahai Bani Salimah tetaplah kamu di rumahmu yang sekarang, karena bekas langkahmu akan dicatat.”

(HR.Muslim)

Dalam riwayat lain dikatakan : “Setiap langkah itu mengangkat satu
derajat.”

22. Dari Abul Mundzir Ubay bin Ka’ab ra., ia berkata: “Ada seseorang yang sepanjang pengetahuan saya, tidak ada seorang pun yang lebih jauh tempatnya dari masjid dan ia tidak pernah tertinggal solat di masjid. Ada seseorang yang menyarankan:

“Seandainya kamu membeli keldai yang dapat kamu naiki pada waktu gelap dan pada waktu panas, niscaya kamu tidak begitu lelah.”

la menjawab: “Saya tidak suka bila rumah saya dekat dengan masjid. Sesungguhnya saya menginginkan agar perjalanan saya, baik sewaktu pergi ke masjid maupun pulang ke rumah, itu selalu dicatat.”

Kemudian Rasulullah SAW bersabda: “Allah telah mengumpulkan semua catatan itu bagi kamu.” (HR. Muslim)

Dalam riwayat lain dikatakan: “Bagimu akan mendapatkan apa yang kamu inginkan.”

23. Dari Abu Muhammad Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash ra., ia berkata:

Rasulullah SAW bersabda: “Ada empat puluh perbuatan, dan yang paling utama adalah mendermakan seekor kambing untuk diperah susunya. Dan siapa saja yang mengerjakan salah satu di antara empat puluh itu hanya
mengharapkan pahala dan melaksanakan apa yang pernah dijanjikannya, niscaya Allah akan memasukkan kedalam  syurga kerena
amalnya.” (HR. Bukhari)

24. Dari ‘Adiy bin Hatim ra., ia berkata:

“Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Takutlah kamu sekalian terhadap api neraka walaupun hanya bersedekah dengan separuh biji
kurma.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat lain disebutkan, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda:

“Salah seorang di antara kamu nanti akan berbicara langsung dengan Tuhannya, padahal antara dia dengan Tuhannya
tidak ada penterjemah, kemudian ia melihat ke kanan tiada terlihat kecuali amal yang pernah dilakukannya, kemudian ia melihat ke kiri
tiada terlihat kecuali api tepat di depan mukanya, maka takutlah kalian terhadap api itu walaupun hanya bersedekah dengaan
separuh biji kurma. Siapa saja yang tidak mampu, maka cukup dengan kata-kata yang baik.”

25. Dari Anas ra., ia berkata:

Rasulullah SAW bersabda:”Sesungguhnya Allah redha terhadap seseorang, yang apabila makan makanan, ia memuji kepada-Nya.”

(HR. Bukhari)

26. Dari Abu Musa ra. dari Nabi SAW beliau bersabda:

“Setiap orang Islam itu wajib bersedekah.” Salah seorang sahabat bertanya: “Bagaimana jika ia tidak mempunyai apa-apa ?”

Beliau menjawab: “Hendaklah ia berbuat dengan kedua tangannya, sehingga hasilnya dapat dimanfaatkan bagi dirinya dan dapat pula untuk di sedekahkan!”

Ia bertanya: “Bagaimana seandainya ia tidak mampu untuk berbuat seperti itu?”

Beliau menjawab: “Hendaklah ia membantu orang yang sangat memerlukan bantuannya!”

Ia bertanya Iagi: “Bagaimana seandainya ia tidak mampu memberi bantuan?”

Beliau menjawab: “Hendaknya ia menyuruh orang untuk berbuat baik!”

Makna MATAN dan SANAD

Apabila membicarakan tentang hadith, kita tidak dapat lari daripada menggunakan istilah ‘sanad’ dan ‘matan’. Bagi yang sudah terbiasa dengan istilah ini, pasti mereka tidak menghadapi masalah dalam memahami makna keduanya. Namun bagi sahabat-sahabat yang belum pasti atau belum tahu tentang makna kedua-dua istilah ini, berikut adalah penerangan ringkas untuk anda.

Untuk lebih mudah memahami apakah sanad dan matan, mari kita lihat contoh sebuah hadith berikut :

حَدَّثَنَا الْحُمَيْدِيُّ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الزُّبَيْرِ قَالَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ الْأَنْصَارِيُّ قَالَ أَخْبَرَنِي مُحَمَّدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ التَّيْمِيُّ أَنَّهُ سَمِعَ عَلْقَمَةَ بْنَ وَقَّاصٍ اللَّيْثِيَّ يَقُولُ سَمِعْتُ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَلَى الْمِنْبَرِ

قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ إِلَى امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

صحيح البخاري – )ج 1 / ص 3(

Hadith di atas dipetik daripada buku yang terkenal karya Imam al-Bukhari (wafat 256H) iaitu al-Jami’ al-Sahih atau lebih dikenali dengan nama Sahih al-Bukhari. Hadith di atas adalah hadith pertama dalam buku tersebut dan ia merupakan antara hadith yang paling popular dalam masyarakat. Berdasarkan hadith di atas, kita akan melihat maksud ’sanad’ dan ’matan’ dengan lebih dekat.

Dari segi bahasa, ’sanad’ membawa maksud : sandaran.

Secara istilah ahli hadith pula adalah jalan yang bersambung sampai kepada matan, rawi-rawi yang meriwayatkan matan hadits dan menyampaikannya.

Sanad dimulai dari rawi yang awal (sebelum pencatat hadits) dan berakhir pada orang sebelum Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yakni Sahabat.

Misalnya al-Bukhari meriwayatkan hadits di atas, rawi yang sebelum al-Bukhari dikatakan awal sanad (ALHUMAIDI ABDULLAH BIN ZUBAIR) sedangkan Shahabat yang meriwayatkan hadits itu dikatakan akhir sanad (UMAR BIN ALKHATTAB).

Di dalam contoh di atas sanad diwarnakan dengan warna merah.

Apakah kepentingan sanad dalam menerima sesuatu hadith? Abdullah bin al-Mubarak (wafat 181H) rahimahullah berkata: “Sanad itu termasuk dari agama, kalau seandainya tidak ada sanad, maka orang akan berkata sekehendaknya apa yang ia inginkan” [Syarah Sahih Muslim, anNawawi 1/87]. Kata-kata beliau merujuk kepada zaman periwayatan dan penyebaran hadith di mana hadith-hadith yang disebut perlukan sesuatu sandaran untuk dijadikan rujukan. Alhamdulillah, pada masa kini, sanad-sanad telah pun dibukukan dan kita telah pun menerima hasil kajian ulama salaf yang terdahulu untuk kita guna dan fahami. Semoga Allah SWT membalas jasa ulama terdahulu pada zaman periwayatan di atas jasa mereka mengumpulkan, menulis dan memelihara sanad-sanad hadith agar dapat difahami dan dikuasai oleh umat Islam selepas mereka.

Matan pula secara bahasa ertinya kuat, kukuh, keras.

Manakala, matan dari istilah ahli hadith ialah teks (isi, ucapan atau lafaz-lafaz) hadits

Di dalam contoh di atas, matan di warnakan dengan warna hijau.

Setiap kajian yang dilakukan oleh para ulama hadith pada dasarnya terbahagi kepada kajian terhadap sanad dan juga kajian terhadap matan. Dengan mengkaji sanad dan matan (secara bersama), maka para ulama dapat mengenal pasti sejauh mana sesuatu hadith itu benar-benar sahih. Kajian mereka terhadap kedua-dua bahagian ini menunjukkan dengan jelas ketelitian dan sikap berhati-hati mereka dalam menyampaikan hadith.

Wallahua’lam

Manusia terakhir yang memasuki syurga

Dari Abu Hurairah r.a. katanya:

“Bertanya orang banyak kepada Rasulullah s.a.w: “Apakah kami akan melihat Zat Allah di hari kiamat kelak ya Rasulullah?” Jawab baginda: “Apakah kamu terhalang memandang bulan purnama raya?” Jawab mereka itu: “Tidak!”. Berkata pula Rasulullah s.a.w: “Adakah kamu sukar melihat matahari ketika tidak awan menutupinya?” Jawab mereka itu: “Tidak tuan!” Maka berkata Rasulullah s.a.w: “Demikianlah jelasnya kamu akan dapat melihat Allah kelak.”

 Kemudian Rasulullah s.a.w meneruskan perkataannya, kata beliau:

“Pada hari kiamat nanti Allah akan mengumpulkan semua manusia lalu bertitah: “Hendaklah tiap-tiap orang mengikut siapa/apa yang disembahnya didunia.” Mendengar itu maka penyembah matahari mengikut matahari, penyembah bulan mengikut bulan, pemuja thoghut mengikut thoghut dan di dalam rombongan mu’min (yang belum bergerak) terdapat pula kaum munafiq.

Kemudian Allah Taala datang kepada mereka itu dengan wajah yang tidak dikenal, lalu berkata:

“Aku Tuhanmu.” Maka jawab mukminin: “Kami berlindung kepada Allah dari godaanmu! Kami tidak akan bergerak dari sini sebelum datang Tuhan kami yang sejati, dan apabila Ia datang kepada kami, dapat kami mengenalNya.”

Setelah itu Allah Taala datang kepada mereka dengan rupaNya yang dikenal oleh orang-orang Mukmin itu, lalu berkata:

“Aku Tuhanmu”. Maka dijawab kaum mukmin: “Benar, Engkaulah Tuhan kami, mereka itupun segera mengikutNya.” Berkata pula Rasulullah s.a.w “Nun disana di atas api neraka dibentangkan titian, maka umatkulah yang pertama menyeberang titian itu. Pada saat itu tak seorang pun dibenarkan berbicara kecuali Rasul-Rasul pesuruh Allah; seruan Rasul-Rasul ketika itu: Oh Tuhan! selamatkanlah, selamatkanlah!”

Ditengah-tengah api neraka itu terdapat banyak besi-besi melengkung seperti lengkung pancing, seperti duri sa’dan. Kata Rasulullah s.a.w kepada sahabat-sahabat yang hadir:

Adakah kamu pernah melihat sa’dan?”

Jawab mereka:

“Ya!” “Seperti duri sa’dan itulah bentuk besi-besi itu, hanya saja besarnya tidak terkira, dan itu kelak yang akan mengait manusia yang sedang meniti, menurut imbangan dosa masing-masing. Yang beriman akan terlepas dari kaitannya dan yang berdosa, terkena , tetapi akhirnya dilepaskan.”

Setelah Allah selesai mengadili hamba-hambaNya dan berkehendak dan mengeluarkan penghuni neraka dengan rahmatNya, dititahkanNya kepada malaikat-malaikat untuk mengeluarkan mereka yang diberiNya rahmat, kerana di dunia mereka tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apa pun. Malaikat-malaikat yang mendapat perintah itu pun dapat mengenal orang-orang yang berkata “tiada tuhan yang disembah kecuali Allah” dengan adanya bekas sujud sembahyang yang memang tidak dimakan api neraka.

Kemudian segeralah Malaikat-malaikat itu mengeluarkan mereka dalam keadaan hangus rentung, kemudian dituangkan ketubuh masing-masing air hidup, maka tumbuhlah masing-masing kerana air itu seperti tumbuhnya jenis biji setelah banjir surut.

Setelah hal itu selesai seluruhnya, rupanya disana masih tinggal seorang lelaki yang menghadap mukanya ke neraka dialah yang terakhir sekali masuk ke dalam syurga. Kepada Allah ia bermohon dengan bersungguh-sungguh agar mukanya dapat dipalingkan dari api neraka itu, dengan alasan bau dan nyalaannya telah menghancur luluhkan dirinya. Demikianlah permohonan itu berkali-kali diulangnya.

Kemudian Allah berkata kepadanya:

“Kalau Aku kabulkan permintaan ini apakah tak ada permohonan yang lain lagi?”

Jawab orang itu:

“Tidak!”

dan ia berjanji keras kepada Allah bahawa ia tidak akan meminta sesuatu apapun lagi. Permohonan orang itu pun dikabulkan Allah Taala. Setelah terlihat olehnya kemewahan syurga, terdiamlah ia beberapa lama.

Kemudian ia bermohon lagi kepada Allah agar dapat disampaikan ke pintu syurga itu, Berkata Allah kepadanya:

“Bukankah engkau telah berjanji keras tak akan meminta apa-apa lagi? Celaka anak Adam ini! Alangkah pemungkirnya!”

Maka orang itupun bermohon kedua kalinya kepada Allah serta berjanji pula tak akan menambah permohonannya lagi.

Setelah permohonan orang itu dikabulkan Allah dan terlihatnya kemewahan syurga, terdiamlah ia beberapa lama. Kemudian ia bermohon kepada Allah magar dapat disampaikan ke pintu syurga. Setelah ia tiba di sana terbukalah pintu syurga itu selebar-lebarnya, dan dilihatnya segala kenikmatan dan kegembiraan, kemewahan yang ada di dalamnya. Dia tercengang takjub dan tak dapat berkata-kata. Kemudian ia bermohon pula ketiga kalinya agar dapat dimasukkan ke dalamnya, seraya berjanji seperti janji yang lampau. “Alangkah pemungkirnya kamu hai anak Adam!” kata Allah Taala kepadanya. Jawabnya: “Oh Tuhan! jangan kiranya hamba ini menjadi orang-orang yang celaka.” Demikianlah permohonan itu diulang-ulang, akhirnya tertawalah Allah Taala seraya bertitah: “Masuklah engkau ke dalam syurga ini!”

Maka apabila masuk ke dalamnya , bertitahlah Allah:

“Sekarang dapatlah engkau mencita-citakan apa saja keinginanmu!”

Orang itupun segera bermohon berbagai-bagai permintaan dan mencita-cita bermacam-macam kenikmatan sehingga Allah Taala memperingatkannya kepada soal-soal yang tertentu dari kenikmatan yang tak diketahuinya. Akhirnya apabila orang itu telah merasa puas, berkatalah Allah Taala kepadanya:

“Nikmatilah kemewahan yang telah ada ini, bahkan akan ditambah lagi dengan berbagai nikmat sebanyak itu pula. (Hadith Sahih Riwayat Imam Muslim)

Dalam hadith lain diceritakan:

Abdullah bin Mas’ud r.a katanya: Rasulullah s.a.w bersabda:

Sesungguhnya aku benar-benar tahu ahli Neraka yang terakhir keluar dari sana dan ahli Syurga yang terakhir masuk ke Syurga iaitu seseorang yang keluar dari Neraka secara merangkak lalu Allah Taala berfirman kepadanya: Pergilah, masuklah ke dalam Syurga, maka dia pun mendatangi Syurga, tetapi terlintas di fikirannya bahawa Syurga itu telah pun dipenuhi. Oleh itu dia kembali dan berkata: Wahai Tuhanku, aku telah temui Syurga itu namun ianya telah penuh. Allah Taala berfirman: Pergilah, masuklah ke dalam Syurga, maka dia pun mendatangi Syurga, tetapi terlintas di fikirannya bahawa Syurga itu telah dipenuhi lalu kembali semula dan berkata: Wahai Tuhanku, aku telah temui Syurga itu tetapi ianya telah penuh. Allah berfirman: Pergilah, masuklah ke dalam Syurga kerana sesungguhnya ianya untukmu seumpama dunia dan sepuluh kali gandanya atau sesungguhnya ianya bagimu sepuluh kali ganda dunia. Lelaki itu berkata: Adakah Engkau mengejekku atau mempermain-mainkan aku, kerana Engkau adalah Maharaja? Maka Abdullah bin Mas’ud berkata: Aku benar-benar melihat Rasulullah s.a.w tertawa sehingga ternampak gigi geraham baginda dan dikatakan: Itulah Ahli Syurga yang paling rendah kedudukannya. (Hadith Sahih Riwayat Imam Muslim)

Tidak Mendapat Pahala Puasa Selain Dari Lapar Dan Dahaga

Tidak Mendapat Pahala Puasa Selain Dari Lapar Dan Dahaga

Daripada Abu Hurairah r.a. katanya bahawa Nabi s.a.w. bersabda: “Sesiapa yang tidak meninggalkan percakapan bohong dan berkelakuan buruk sedangkan ia berpuasa, baginya tidak ada kelebihan (pahala) di sisi Allah selain dari lapar dan dahaga sahaja yang didapatinya.”

(al-Bukhari)

HURAIAN:

1. Orang yang berpuasa sedangkan mereka tidak memelihara lidah (percakapan yang tidak baik) dan juga masih melakukan maksiat, tidak akan diberi pahala puasa oleh Allah selain mendapat lapar dan dahaga sahaja.
2. Puasa yang paling bernilai di sisi Allah S.W.T. ialah puasa orang yang dapat menahan lapar dan dahaga serta menjaga pancaindera mereka daripada melakukan maksiat dan dosa di samping menambahkan amal ibadat sepanjang mereka berpuasa.
3. Maka amatlah malang dan ruginya bagi orang yang berpuasa, tetapi masih mengeluarkan perkataan-perkataan yang kotor memaki hamun dan sebagainya, sebagaimana biasa, sedangkan ia berpuasa, maka ia tidak mendapat apa-apa kelebihan atau pahala di sisi Allah S.W.T bahkan mendapat dosa pula.

Khusyuk Yang Terganggu

Khusyuk Yang Terganggu

Diriwayatkan dari Aisyah katanya:”Nabi s.a.w pernah solat memakai baju bergambar (bercorak-corak). Suatu ketika nabi s.a.w terlihat kepada gambar di baju itu. Setelah selesai solat, nabi berkata:”Bawalah bajuku ini kepada Abu Jahm dan bawa kembali tukaran daripada Abu Jahm. Baju ini melalaikanku sebentar tadi dari solatku.”

(al-Bukhari)

HURAIAN:

Solat adalah sah jika menepati segala rukun dan syarat yang telah ditentukan oleh syarak walaupun memakai pakaian yang ada gambar (bergambar). Walau bagaimanapun dari segi adab dalam beribadat, perkara ini tidak digalakkan kerana ia mungkin mengganggu penumpuan kita atau orang lain terhadap solat kecuali tidak ada pakaian yang lebih baik ketika itu. Sesungguhnya dalam beribadat, bukan sahaja rukun dan syarat perlu diikuti tetapi adab juga mesti diutamakan. Memakai pakaian yang sopan dan selayaknya dipakai mestilah dititikberatkan apalagi ketika behadapan dengan Allah Ta’ala. Itulah yang dinamakan sifat ihsan iaitu merasakan bahawa Allah Ta’ala melihat ibadat yang sedang kita kerjakan. Jika kita tidak menjaga adab ini dikhuatiri ibadat kita tidak sempurna walaupun di sisi syarak ianya dianggap sah.